EQUATOR, KUBU RAYA — Upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat mulai menunjukkan hasil. Di Kabupaten Kubu Raya, jumlah titik panas yang sebelumnya mencapai sekitar 214 titik, kini menurun menjadi 63 titik. Meski begitu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meminta seluruh unsur yang terlibat tetap bekerja maksimal. Sebab, kemarau diperkirakan masih akan berlangsung dan ancaman El Nino masih jadi perhatian.
"El Nino ini masih panjang sekali. September bahkan akan menjadi puncaknya," kata Menhut Raja Juli saat meninjau lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Rasau Jaya Umum, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Senin (24/08/2026).
Menhut mengingatkan semua pihak untuk tidak terlena dengan penurunan hotspot atau titik panas. Kesiapsiagaan harus tetap dipertahankan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru, terutama di kawasan gambut meski api di permukaan telah dipadamkan.
“Turunnya angka titik panas atau hotspot ini tidak membuat kita abai, tidak waspada. Karena datanya sekali lagi sangat dinamis," tegasnya.
Usai melihat kondisi lapangan, menhut Raja Juli langsung memimpin rapat koordinasi pengendalian karhutla di Pos Daops Manggala Agni Pontianak. Rapat tersebut menjadi bagian dari penguatan langkah antisipasi menghadapi potensi peningkatan karhutla di Kalimantan Barat. Hadir dalam rapat Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan, Wakil Bupati Kubu Raya Sukiryanto, dan sejumlah kepala perangkat daerah terkait dari Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.
Wakil Bupati Kubu Raya Sukiryanto mengatakan penurunan jumlah titik api merupakan perkembangan positif di tengah upaya pemerintah melakukan pemadaman dan pencegahan karhutla.
"Alhamdulillah. Dari Pak Presiden berkunjung ke Kalbar, Kubu Raya waktu itu masih kurang lebih 214 titik api. Saat ini ada 63, tinggal 63," kata Sukiryanto.
Menurut dia, penurunan titik api tidak lepas dari berbagai langkah penanganan yang dilakukan pemerintah, termasuk operasi modifikasi cuaca (OMC), patroli udara, hingga pengerahan helikopter water bombing.
"Saat ini bantuan water bombing sudah siap tujuh. Kemudian OMC ada tiga, terus patroli ada dua heli. Alhamdulillah," ujarnya.
Selain dukungan dari unsur pemerintah daerah dan pusat, tambah Sukiryanto, personel bantuan dari TNI Angkatan Darat juga mulai berdatangan ke Kalimantan Barat. Dari sekitar 1.260 personel yang direncanakan untuk diperbantukan, sekitar 80 persen telah tiba. Ia menyebut Menteri Kehutanan juga menyampaikan adanya tambahan kekuatan dari Manggala Agni. Sebanyak 700 personel akan disiapkan untuk mendukung pengendalian karhutla di Kalimantan Barat.
"Ini saya yakin tentu membuat masyarakat Kalimantan Barat lebih siap," katanya.
Penguatan armada pemadaman juga masih akan dilakukan. Sukiryanto menyebut akan ada tambahan tiga unit heli water bombing untuk memperkuat penanganan karhutla di wilayah yang rawan terbakar. Di sisi lain, pemerintah juga berharap operasi modifikasi cuaca dapat mendatangkan hujan. Sukiryanto mengatakan pada periode 23-27 Agustus terdapat potensi penyemaian garam pada titik-titik awan yang memungkinkan, termasuk di wilayah Kubu Raya.
"Nah, ini mudah-mudahan sampai tanggal 27. Karena apabila di tanggal 23-27 itu tidak terjadi peningkatan awan, berarti kita kemungkinan tidak akan ada hujan," jelasnya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat Kubu Raya berdoa agar berbagai ikhtiar pemerintah membuahkan hasil, terutama dengan turunnya hujan yang diharapkan mampu membantu memadamkan titik-titik api.
"Mohon doanya bagi masyarakat Kabupaten Kubu Raya agar usaha pemerintah, baik pusat maupun daerah, ini bisa menghasilkan turunnya hujan untuk mengantisipasi titik api. Dari 214 menjadi 63, mudah-mudahan di tanggal 27 habis," ucap Sukiryanto. (sya)
Komentar
Login untuk Berkomentar
Silakan login untuk memberikan komentar