EQUATOR, KUBU RAYA — Wakil Bupati Kubu Raya Sukiryanto memprediksi potensi kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di wilayahnya masih akan meningkat hingga September 2026. Sementara hujan baru diperkirakan turun dengan intensitas lemah pada Oktober.

 

“Dari 8 Maret sampai 30 Juli 2026 kita lihat kondisi titik api. Diperkirakan sampai September api ini akan semakin membesar,” kata Sukiryanto dalam Briefing Rutin Penanganan Karhutla di Ruang Rapat Praja Utama, Jumat (31/07/2026).

 

Ia menyebut Kubu Raya menjadi perhatian nasional karena hampir 80 persen wilayahnya merupakan lahan gambut. Di beberapa titik seperti Sepakat, Sungai Raya, dan Sungai Ambawang, kedalaman gambut bahkan mencapai 6 sampai 8 meter.

 

“Ini bukan kita yang memilih. Tugas kita hanya berusaha. Kadang tenaga ada, alat ada, tapi kalau air tidak ada ya tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya. 

 

Sukiryanto juga mengapresiasi para relawan yang terus turun ke lapangan. Ia mencatat Kubu Raya saat ini berada di urutan ketiga daerah dengan titik api tertinggi di Kalbar setelah Ketapang dan Kayong Utara. Namun secara nasional Kubu Raya tetap disorot karena berdekatan dengan Bandara Internasional.

 

Dalam briefing tersebut, Wabup membeberkan sejumlah kekurangan yang harus segera dilengkapi. Dari Polres, ia menyorot kebutuhan selang pemadam. Dari BPBD, ia menilai jumlah tim survei yang hanya satu orang masih kurang.

 

“Saya minta Kalaksa BPBD menambah tim survei minimal tiga orang. Kapolres juga bisa menugaskan personel. Pos survei sebaiknya di kantor bupati agar koordinasi antarinstansi lebih mudah,” katanya.

 

Untuk mengatasi keterbatasan air, Wabup mengusulkan pembuatan embung darurat menggunakan terpal. 

 

“Biayanya sekitar Rp3,6 juta per titik. Kalau kita buat 10 titik, ini paling murah dan cepat. Air akan mengalir dan mengisi sendiri. Asal penyimpanannya bagus bisa dipakai sampai tahun depan,” jelasnya.

 

Ia mencontohkan inisiatif pondok pesantren yang memanfaatkan sumur bor lalu disaring untuk kebutuhan darurat. “Kalau ini untuk keadaan darurat, rasa saya tidak perlu izin yang berbelit. Yang penting kita bergerak dulu,” tegasnya.

 

Wabup menutup dengan mengajak seluruh Forkopimda untuk terus aktif. 

 

“Intinya kita harus semangat. Sekali-sekali kita ngopi bareng, bahas penanganan karhutla. Biar tidak jenuh, tapi hasilnya tetap maksimal,” pungkasnya.

 

Sementara itu, Kapolres Kubu Raya AKBP Rensa Aktadivia Robinson menginstruksikan jajarannya memperkuat koordinasi dengan seluruh stakeholder dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla.

 

“Silakan berkoordinasi dengan stakeholder instansi-instansi terkait untuk memulai tindakan pencegahan, koordinasi, dan kolaborasi dalam rangka penanganan titik-titik api dan pemadaman karhutla,” kata Kapolres.

 

Kapolres juga menegaskan akan menindak tegas jika ditemukan indikasi pembakaran sengaja. 

 

“Lakukan penyelidikan. Cari tahu siapa pemilik lahannya, siapa yang melakukan pembakaran, dan apa motifnya. Apakah untuk pembukaan lahan perkebunan, pertanian, dan sebagainya,” ujarnya.

 

Ia mengingatkan meski ada Perda yang mengatur batas pembukaan lahan, masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara dibakar. 

 

“Yang diharapkan pimpinan adalah masyarakat jangan dipersulit untuk membersihkan lahan, tapi jangan juga melakukan pembakaran,” katanya.

 

Menurut Kapolres, saat musim kemarau debit air terbatas sehingga pemadaman kerap terkendala. Ia juga menyorot dampak asap yang bisa mengganggu aktivitas di bandara dan transportasi umum.

 

“Kami dari Polres juga akan memberikan pemahaman kepada masyarakat. Saya sudah instruksikan Sat Binmas melalui Kasat Binmas untuk melakukan sosialisasi dengan melibatkan tokoh masyarakat. Imbau masyarakat agar tidak meninggalkan api setelah membakar, karena bisa merembet dan membesar,” jelasnya. (sya)