EQUATOR, KUBU RAYA – Menjaga stabilitas harga bahan pokok, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya kembali menggelar operasi pasar murah melalui kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM), Rabu (15/07/2026). Masyarakat menyambut antusias GPM yang diadakan di Rendys Cafe, Desa Pal IX, Kecamatan Sungai Kakap. Bupati Kubu Raya Sujiwo menegaskan bahwa GPM merupakan wujud nyata kehadiran pemerintah di tengah masyarakat, terutama di saat kondisi ekonomi warga belum sepenuhnya pulih.

 

"Ini rangkaian operasi pasar yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya melalui Gerakan Pangan Murah. Artinya, kita turun di kecamatan-kecamatan. Ini titik yang ketiga," kata Bupati Sujiwo saat meninjau langsung GPM di Rendy’s Cafe.

 

Sujiwo memastikan pemerintah kabupaten akan terus melanjutkan GPM ke titik-titik lainnya mengingat operasi pasar murah sangat penting dalam meringankan beban masyarakat melalui pemberian subsidi dari pemerintah daerah.

 

"Tujuan utamanya tentunya ini wujud negara hadir, pemerintah hadir di tengah-tengah masyarakat di saat kondisi ekonomi yang tidak terlalu baik. Sehingga ketika ada subsidi sampai Rp21 ribu, itu cukup membantu. Apalagi saya tambahkan lagi tadi Rp26 ribu. Ya hampir Rp50 ribu subsidinya. Pasti masyarakat bahagia banget," tuturnya.

 

Selain meringankan beban masyarakat, Sujiwo menyebut GPM juga merupakan salah satu strategi pemerintah daerah dalam menahan laju inflasi agar tidak meningkat secara drastis.

 

"Ini juga salah satu langkah pemerintah bagaimana kita terus menjaga inflasi tidak melaju, inflasi tidak meningkat secara drastis. Sehingga angka inflasi dapat terus kita tekan. Apalagi dengan adanya konflik global, dampaknya juga kemana-mana. Salah satunya adalah kenaikan secara drastis harga-harga bahan pokok penting," kata Sujiwo.

 

Ia menilai antusiasme masyarakat yang tinggi saat kegiatan berlangsung menjadi bukti bahwa program GPM sangat dibutuhkan.

 

"Yang kita lihat tadi antusias yang begitu luar biasa. Itu menunjukkan bahwa masyarakat memang kondisinya saat ini sedang susah dari aspek ekonomi," ujarnya.

 

Meski begitu, Sujiwo menekankan bahwa pengendalian harga melalui operasi pasar bersifat jangka pendek. Untuk jangka panjang, pemerintah kabupaten mendorong kemandirian pangan melalui peningkatan produksi di tingkat lokal.

 

"Bagaimana strategi jangka panjang untuk menjaga inflasi? Menanam sayur-mayur, kemudian menanam padi, menanam pengganti padi kan banyak juga seperti keladi, ubi, dan lain sebagainya. Artinya, penyumbang inflasi itu terutama sembilan bahan pokok penting, sebagian itu bisa kita berdayakan dari lahan-lahan kita," terangnya.

 

Karena itu, ia meminta Dinas Pertanian untuk terus mendorong produktivitas para petani, kelompok tani, dan gabungan kelompok tani agar dapat memaksimalkan pemanfaatan lahan khususnya lahan sawah.

 

"Dengan cara itu, maka jangka panjang inflasi akan lebih terkendali. Kalau yang GPM ini sifatnya lebih kepada pengendalian saja. Dan tidak mungkin pemerintah akan terus bisa memberikan bantuan terus secara berkepanjangan," ungkapnya.

 

Sujiwo berharap dengan langkah konkret menjaga ketersediaan dan keterjangkauan pangan, maka ketika terjadi lonjakan harga, masyarakat tetap aman dari sisi ketahanan pangan dan tidak terlalu terdampak.

 

"Jadi tentunya langkah konkret supaya inflasi stabil ketika terjadi lonjakan harga, masyarakat aman pangannya, maka tidak akan terlalu berpengaruh," pungkasnya. (sya)