Nama sebagai Identitas dan Memori Peradaban
Ada sebuah pepatah yang mengatakan, "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati sejarahnya." Kalimat tersebut bukan sekadar retorika, melainkan prinsip yang menjadi fondasi pembangunan identitas kolektif suatu bangsa. Salah satu cara paling nyata menghormati sejarah adalah melalui penamaan ruang-ruang publik, termasuk universitas. Sebab, nama bukan sekadar identitas administratif, melainkan representasi memori, nilai, dan citacita yang hendak diwariskan kepada generasi berikutnya.
Universitas bukan hanya tempat menyelenggarakan pendidikan tinggi. Ia adalah institusi yang membentuk karakter, melahirkan gagasan, serta menjaga kesinambungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Karena itu, nama yang disematkan pada sebuah universitas memiliki makna simbolik yang jauh melampaui papan nama di gerbang kampus. Nama tersebut akan terus diucapkan oleh ribuan mahasiswa, dosen, peneliti, dan alumni selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Momentum perubahan status Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Pontianak merupakan kesempatan historis untuk menegaskan identitas akademik sekaligus identitas kebudayaan Kalimantan Barat. Pertanyaannya kemudian adalah: nama siapakah yang paling layak diabadikan sebagai identitas universitas Islam negeri pertama di Kalimantan Barat?
Jika menggunakan ukuran sejarah, kontribusi terhadap penyebaran Islam, jasa pendirian kota, legitimasi sosial, dan relevansi terhadap karakter universitas Islam, maka jawabannya hampir tidak menyisakan ruang perdebatan. Nama yang paling layak adalah Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie, pendiri Kota Pontianak sekaligus pendiri Kesultanan Kadriah Pontianak.
Usulan ini bukan lahir dari sentimen genealogis ataupun romantisme sejarah keluarga. Sebaliknya, ia merupakan bentuk penghormatan terhadap fakta sejarah dan upaya menghadirkan keadilan simbolik bagi tokoh yang telah meletakkan fondasi lahirnya kota dan berkembangnya peradaban Islam di Kalimantan Barat.
Tradisi Penamaan Universitas di Indonesia dan Dunia
Di berbagai negara, penamaan universitas bukanlah keputusan yang bersifat kebetulan. Nama universitas biasanya dipilih untuk merepresentasikan warisan intelektual, tokoh besar, atau identitas suatu daerah.
Indonesia memiliki banyak contoh. Universitas Hasanuddin mengabadikan nama Sultan Hasanuddin sebagai simbol keberanian dan kepemimpinan Sulawesi Selatan. Universitas Sultan Ageng Tirtayasa mengabadikan Sultan Ageng sebagai tokoh besar Banten. Di lingkungan perguruan tinggi Islam, tradisi tersebut bahkan lebih kuat. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Sultan Syarif Kasim Riau, hingga UIN Raden Fatah Palembang menunjukkan bahwa nama universitas bukan hanya penanda lokasi, tetapi juga penghormatan terhadap ulama, sultan, dan penyebar Islam yang membentuk sejarah daerahnya.
Fenomena yang sama dapat ditemukan di dunia internasional. Banyak universitas menggunakan nama tokoh yang menjadi inspirasi intelektual dan moral, sementara lainnya menggunakan nama kota atau wilayah yang memiliki makna historis. Intinya sama: universitas diposisikan sebagai penjaga memori peradaban.
Mengapa praktik ini penting? Karena universitas bukan hanya lembaga pendidikan. Ia adalah institusi kebudayaan. Ia bertugas menjaga kesinambungan sejarah sekaligus melahirkan masa depan. Dalam perspektif ini, penamaan universitas bukan sekadar urusan administratif, melainkan bagian dari politik memori (politics of memory), yakni bagaimana suatu masyarakat memilih tokoh yang dianggap paling layak menjadi simbol identitas kolektifnya. Jika daerah lain mampu menghormati tokoh-tokoh pendirinya melalui nama universitas, mengapa Pontianak justru ragu mengabadikan nama pendiri kotanya sendiri?
Mengapa Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie Memiliki Legitimasi Historis Tertinggi
Dalam ilmu sejarah, legitimasi tidak dibangun atas dasar keturunan, melainkan atas kontribusi nyata terhadap perubahan sosial dan pembangunan peradaban.
Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie memenuhi ukuran tersebut secara utuh. Beliaulah yang pada tahun 1771 membuka kawasan di muara Sungai Kapuas dan Sungai Landak, mendirikan Kesultanan Kadriah, membangun Masjid Jami', sekaligus meletakkan fondasi Kota Pontianak. Dari kawasan yang sebelumnya berupa hutan dan jalur sungai, berkembang pusat perdagangan, pemerintahan, dakwah Islam, dan interaksi antarbangsa yang kemudian menjadi embrio ibu kota Kalimantan Barat.
Namun, jasa beliau tidak berhenti pada pendirian fisik sebuah kota. Sultan Syarif Abdurrahman berhasil membangun sistem pemerintahan yang mampu menjalin hubungan diplomatik dengan berbagai kerajaan Nusantara dan kekuatan asing pada masanya. Pontianak berkembang sebagai bandar perdagangan yang terbuka bagi berbagai etnis—Melayu, Arab, Tionghoa, Dayak, Bugis, Banjar, dan lainnya—yang hidup berdampingan dalam struktur sosial yang relatif harmonis.
Dengan demikian, Sultan Syarif Abdurrahman bukan hanya pendiri kota, tetapi juga arsitek masyarakat multikultural yang menjadi ciri khas Pontianak hingga hari ini. Sulit menemukan tokoh lain yang memiliki kontribusi historis seluas itu terhadap identitas Kalimantan Barat.
Hubungan Pendirian Pontianak dengan Perkembangan Islam di Kalbar
Sejarah Pontianak tidak dapat dipisahkan dari sejarah Islam. Sejak awal berdirinya, Kesultanan Kadriah menempatkan Islam sebagai fondasi moral pemerintahan sekaligus kehidupan masyarakat. Pembangunan Istana Kadriah berjalan beriringan dengan pembangunan Masjid Jami' Sultan Syarif Abdurrahman. Hal ini menunjukkan bahwa pusat pemerintahan dan pusat keagamaan dirancang sebagai dua institusi yang saling menopang.
Dari Masjid Jami' inilah berkembang pendidikan agama, pengajaran Al-Qur'an, penyelesaian sengketa masyarakat, pembinaan ulama, serta penyebaran Islam ke berbagai wilayah Kalimantan Barat.
Model penyebaran Islam yang dilakukan Kesultanan Pontianak juga memiliki karakter khas Nusantara: damai, persuasif, dan adaptif terhadap budaya lokal. Islam berkembang melalui perdagangan, perkawinan, pendidikan, dan diplomasi, bukan melalui pemaksaan.
Model dakwah semacam ini kini justru menjadi kekuatan Indonesia di mata dunia. Ketika banyak negara menghadapi tantangan ekstremisme, Indonesia dikenal sebagai contoh Islam moderat yang mampu berdialog dengan keberagaman budaya.
Dalam konteks tersebut, Sultan Syarif Abdurrahman bukan sekadar pemimpin politik, melainkan tokoh dakwah yang berhasil mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan pembangunan masyarakat.
Bukankah sosok seperti inilah yang paling tepat menjadi identitas sebuah Universitas Islam Negeri?
UIN sebagai Pusat Peradaban Islam Melayu
Transformasi IAIN menjadi UIN seharusnya tidak hanya dipahami sebagai penambahan fakultas umum atau perubahan nomenklatur kelembagaan. Lebih dari itu, perubahan tersebut harus menjadi momentum membangun academic identity.
Kalimantan Barat memiliki kekayaan intelektual yang belum sepenuhnya dikembangkan, yakni tradisi Islam Melayu. Selama ini kajian Islam Melayu lebih banyak berkembang di Aceh, Riau, Sumatera Barat, dan Malaysia. Padahal Pontianak memiliki sejarah kesultanan Islam yang panjang, jaringan ulama, manuskrip keagamaan, tradisi hukum adat Melayu, hingga warisan arsitektur Islam yang sangat kaya.
Dengan menyandang nama Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie, UIN Pontianak memiliki peluang besar untuk menjadi pusat studi Islam Melayu Borneo yang diakui secara nasional maupun internasional.
Universitas ini dapat menjadi rujukan penelitian mengenai sejarah kesultanan, hubungan Islam dengan masyarakat pesisir, diplomasi perdagangan di Sungai Kapuas, manuskrip Melayu, filologi Islam, ekonomi maritim, hingga studi multikulturalisme. Nama Sultan Syarif Abdurrahman bukan hanya simbol sejarah, tetapi dapat menjadi arah pengembangan akademik universitas.
Manfaat Strategis Penamaan bagi Branding Akademik Nasional dan Internasional
Dalam era persaingan global, universitas tidak cukup hanya memiliki gedung yang megah atau program studi yang banyak. Universitas membutuhkan identitas yang kuat.
Brand akademik dibangun melalui reputasi, tradisi, dan simbol. Nama Universitas Islam Negeri Pontianak Sultan Syarif Abdurrahman AlQadrie memiliki kekuatan naratif yang jauh lebih tinggi dibanding nama generik yang hanya menunjukkan lokasi.
Nama tersebut langsung menghubungkan universitas dengan sejarah pendirian Pontianak, perkembangan Islam di Kalimantan Barat, budaya Melayu, serta warisan kesultanan yang masih hidup hingga kini.
Di tingkat internasional, identitas lokal yang kuat justru menjadi daya tarik akademik. Banyak universitas ternama dikenal karena kekhasan sejarah dan budayanya. Keunikan itulah yang mendorong kolaborasi riset, pertukaran mahasiswa, dan pengembangan pusat-pusat studi.
Bagi UIN Pontianak, nama Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie dapat menjadi pintu masuk membangun jejaring akademik dengan Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, dan kawasan Borneo yang memiliki akar sejarah Melayu-Islam yang sama. Dengan kata lain, penamaan ini bukan hanya penghormatan terhadap masa lalu, tetapi juga investasi reputasi untuk masa depan.
Menjawab Kemungkinan Keberatan atau Perbedaan Pandangan
Dalam masyarakat demokratis, setiap usulan tentu dapat memunculkan pandangan yang berbeda. Ada yang mungkin berpendapat bahwa nama universitas sebaiknya tetap menggunakan nama daerah agar lebih netral. Ada pula yang khawatir penggunaan nama Sultan Syarif Abdurrahman akan dianggap hanya mewakili kelompok tertentu.
Keberatan tersebut patut dihargai, tetapi perlu dijawab secara proporsional. Pertama, Sultan Syarif Abdurrahman bukan hanya tokoh Kesultanan Kadriah. Beliau adalah pendiri Kota Pontianak. Jasa tersebut bersifat publik dan menjadi milik seluruh masyarakat, tanpa membedakan suku, agama, maupun keturunan.
Kedua, nama beliau telah lama digunakan sebagai identitas publik, mulai dari bandara, jalan utama, hingga berbagai institusi. Tidak pernah muncul anggapan bahwa fasilitas tersebut hanya milik satu kelompok. Ketiga, penggunaan nama tokoh sejarah justru memperkuat identitas daerah tanpa mengurangi semangat kebangsaan. Hal ini telah dibuktikan oleh banyak universitas di Indonesia yang menggunakan nama sultan, wali, pahlawan nasional, maupun tokoh lokal.
Dengan demikian, penamaan UIN Pontianak menggunakan nama Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie seharusnya dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah bersama, bukan sebagai simbol eksklusivitas.
Penutup: Menghormati Sejarah, Membangun Masa Depan
Universitas adalah institusi yang hidup dalam rentang waktu yang panjang. Gedung dapat direnovasi, kurikulum dapat berubah, dan teknologi akan terus berkembang. Namun, nama sebuah universitas akan tetap melekat selama puluhan bahkan ratusan tahun sebagai penanda identitas dan arah peradaban.
Karena itu, memilih nama universitas tidak boleh semata-mata didasarkan pada pertimbangan administratif atau kompromi sesaat. Ia harus berpijak pada sejarah, legitimasi moral, dan visi masa depan.
Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie memenuhi seluruh prasyarat tersebut. Beliau adalah pendiri Pontianak, pemimpin yang meletakkan fondasi perkembangan Islam di Kalimantan Barat, penggerak perdagangan dan diplomasi, serta simbol lahirnya masyarakat Pontianak yang majemuk dan terbuka. Mengabadikan nama beliau pada Universitas Islam Negeri Pontianak bukanlah sekadar penghormatan kepada seorang sultan, melainkan pengakuan atas akar sejarah yang membentuk identitas daerah ini.
Apabila UIN Pontianak ingin tumbuh sebagai universitas yang memiliki karakter, reputasi, dan posisi strategis dalam khazanah pendidikan tinggi Islam Indonesia, maka ia memerlukan identitas yang berakar kuat pada sejarah lokal sekaligus relevan dengan masa depan. Nama Universitas Islam Negeri Pontianak Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie menawarkan keduanya: legitimasi historis dan visi akademik.
Pada akhirnya, sebuah peradaban diukur bukan hanya dari kemampuannya membangun gedung-gedung megah, tetapi juga dari kesediaannya menghormati para pendiri yang telah membuka jalan bagi generasi sesudahnya. Mengabadikan nama Sultan Syarif Abdurrahman Al-Qadrie pada UIN Pontianak bukan sekadar pilihan simbolik. Ia adalah pernyataan bahwa Kalimantan Barat menghargai sejarahnya, memahami jati dirinya, dan percaya bahwa masa depan yang kokoh hanya dapat dibangun di atas fondasi sejarah yang dihormati. (*)
*Penulis adalah Architect dan Master Urban Designer, sekaligus keturunan ke-7 dari Pendiri Kesultanan Kadriah Pontianak
Komentar
Login untuk Berkomentar
Silakan login untuk memberikan komentar