EQUATOR, KETAPANG — Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang, YIARI, PT Mohairson Pawan Khatulistiwa (Mopakha), dengan dukungan masyarakat, berhasil mengevakuasi satu individu orangutan jantan dari area perkebunan warga di Desa Kuala Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Evakuasi dilakukan untuk menyelamatkan satwa tersebut dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan itu.
Orangutan yang kemudian diberi nama “Wak” ini pertama kali dijumpai warga di perkebunan buah Desa Kuala Tolak pada bulan Juli 2026. Kehadirannya menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi merusak tanaman milik warga. Di saat yang sama, kebakaran hutan dan lahan yang telah meluas di sekitar desa semakin meningkatkan risiko bagi Wak maupun masyarakat. Kondisi tersebut mendorong tim gabungan untuk segera melakukan evakuasi demi mencegah konflik sekaligus menyelamatkan orangutan dari ancaman api.
Dalam catatan YIARI, kawasan desa Kuala Tolak dan sekitarnya juga memiliki beberapa kasus penyelamatan orangutan pada tahun 2015 dan 2019 saat kebakaran besar melanda wilayah tersebut. Saat itu, BKSDA Kalbar bersama YIARI melakukan upaya penyelamatan beberapa orangutan di area yang sama. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebakaran dan pembukaan lahan telah menjadi masalah berulang yang terus menimbulkan dampak ekologis, sosial, dan ekonomi.
Salah satu warga Desa Kuala Tolak, Morsali mengatakan bahwa konflik satwa dan kebakaran telah terjadi berulang sejak pembukaan lahan dilakukan di sekitar wilayah mereka.
“Orangutan keluar ini juga masalahnya habitatnya ini terganggu. Banyak pembukaan lahan, apalagi ini musim kemarau, api banyak. Jadi dia ini cari tempat yang aman untuk cari makan dan berlindung karena habitatnya sudah tidak aman lagi,” tuturnya.
Melihat potensi ancaman terhadap orangutan ini, BKSDA bersama YIARI memutuskan untuk melakukan evakuasi individu orangutan tersebut. Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menyampaikan bahwa karhutla tidak hanya menghancurkan habitat orangutan, tetapi juga menciptakan siklus konflik yang membebani masyarakat dan pemerintah.
“Pembukaan lahan dengan cara membakar lahan yang tidak terkendali memicu kebakaran yang merusak habitat orangutan. Ketika hutan terbakar dan terfragmentasi, orangutan kehilangan makanan, kehilangan tempat tinggal, dan akhirnya terdorong masuk ke kebun warga,” katanya.
Di sisi lain, lanjut Silverius, masyarakat mengalami kerugian ekonomi karena tanaman rusak dan rasa takut meningkat. Artinya, orangutan dan masyarakat sama-sama menjadi korban dari praktik yang sama. Situasi ini juga menimbulkan beban besar bagi negara, baik dari sisi penanganan konflik satwa, pemadaman kebakaran, pemantauan lapangan, hingga translokasi dan pemulihan habitat.
“Yang lebih memprihatinkan, kebakaran di Ketapang juga sudah sangat serius dan bahkan telah menelan korban jiwa. Ini bukan lagi sekadar isu lingkungan, tetapi juga krisis keselamatan manusia, satwa liar, dan masa depan bentang alam kita,” ujar Silverius.
Setelah dievakuasi, orangutan ini dipulangkan ke areal konsesi PT Mopakha yang merupakan habitat asalnya. Sebagai perusahaan yang menjalankan multi usaha dengan komitmen menjaga kelestarian hutan gambut, PT Mopakha mengelola kawasan yang masih memiliki populasi orangutan liar yang sehat serta habitat yang aman. Karena berada dalam bentang hutan yang sama dengan lokasi asalnya, kawasan ini menjadi tempat yang tepat bagi Wak untuk kembali melanjutkan kehidupannya di alam.
General Manager PT Mopakha, Wendi Tamariska, juga menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung upaya konservasi dan penanganan konflik satwa liar di wilayah operasionalnya. Di tengah upaya penanganan karhutla, PT Mohairson Pawan Khatulistiwa turut merespons cepat informasi mengenai satu individu orangutan jantan yang terjebak di area perkebunan masyarakat di Tanjung Jorong, Desa Kuala Tolak.
“Bersama BKSDA, YIARI, dan tim biodiversity perusahaan, proses penyelamatan dilakukan sejak pagi hingga orangutan berhasil dilepasliarkan kembali pada sore hari di area utara konsesi perusahaan,” ucapnya.
Wendi menuturkan lokasi pelepasliaran dipilih berdasarkan kajian teknis. Di antaranya kondisi habitat masih baik, memiliki tutupan tajuk memadai, serta ketersediaan pakan yang cukup.
“Perusahaan berkomitmen mendukung pemantauan lanjutan agar orangutan tersebut dapat beradaptasi dengan baik di habitat alaminya,” jelas Wendi.
Kepala Balai KSDA Kalbar, Murlan Dameria Pane, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi seluruh pihak dalam penanganan satwa liar tersebut. Penanganan ini menunjukkan pentingnya kerja bersama antara pemerintah, lembaga konservasi, perusahaan, dan masyarakat.
“Translokasi dilakukan bukan semata-mata untuk memindahkan satwa, tetapi sebagai langkah mitigasi konflik agar keselamatan orangutan dan warga sama-sama terjaga. Kita ketahui bersama bahwa habitat satwa liar khususnya orangutan semakin terdesak akibat fragmentasi habitat ditambah lagi dengan adanya kebakaran hutan dan lahan. Untuk itu diperlukan komitmen semua pihak dalam menjaga kekayaan alam kita untuk mendukung kualitas kehidupan semua makhluk,” terang Murlan.
Tim gabungan menegaskan bahwa pencegahan konflik satwa liar tidak dapat dilepaskan dari upaya pengendalian karhutla, perlindungan habitat, serta penegakan aturan terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar. Tanpa langkah-langkah tersebut, konflik akan terus terjadi, merugikan masyarakat, membebani pemerintah, dan mengancam kelestarian orangutan di Ketapang. (r/m@nk)
Komentar
Login untuk Berkomentar
Silakan login untuk memberikan komentar