EQUATOR, KETAPANG - Sepanjang periode 1 Januari sampai 6 Agustus 2026, di Kabupaten Ketapang tercatat memiliki 5.915 titik hotspot untuk kategori medium dan high. Jumlah tersebut didapat berdasarkan data SIPONGI Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.
Plt Kadaops Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang Seksi Wilayah II Pontianak Kalimantan Barat, Efendi menyebut bahwa keseluruhan titik hotspot tersebar di 20 Kecamatan. Kendawangan menjadi wilayah yang terpantau paling banyak hotspot.
"Kendawangan paling banyak, 1.173 titik. Kemudian Matan Hilir Selatan 1.018 Titik, Muara Pawan 533 Titik, Simpang Hulu 489 titik Nanga Tayap 374 titik dan Sungai Melayu Rayak 357 Titik," kata Efendi, Jumat (07/08/2026).
Sementara sebaran titik lainnya, Kecamatan Matan Hilir Utara 318, Benua Kayong 301, Manis Mata 232, Simpang Dua 196, Tumbang Titi 171, Jelai Hulu 165, Marau 163, Sandai 157, Sungai Laur 83, Air Upas 65, Hulu Sungai 49, Pemahan 37 dan Singkup 34.
Sedang berdasarkan hasil perhitungan luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dirilis oleh Kementerian Kehutanan, luas karhutla pada periode Januari hingga Juni 2026 tercatat mencapai kurang lebih 8.095,95 hektar.
"Untuk data luas Karhutla periode Juli 2026 masih dalam proses penghitungan dan akumulasi oleh Tim perhitungan luas Karhutla Kementerian Kehutanan," jelasnya.
Efendi mengungkapkan, berdasarkan data kejadian karhutla, terdapat beberapa kecamatan di Ketapang yang memiliki tingkat kejadian cukup tinggi. Antara lain Kecamatan Kendawangan, Matan Hilir Utara, Matan Hilir Selatan, Benua Kayong dan Muara Pawan.
Menurut dia, kelima kecamatan tersebut menjadi wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus dalam upaya pencegahan dan pengendalian karhutla, terutama pada periode musim kemarau seperti saat ini.
"Lima Kecamatan tersebut menjadi perhatian pimpinan dan ditetapkan sebagai skala prioritas dalam pelaksanaan langkah-langkah pengendalian Karhutla," ungkapnya.
Selain itu, melihat kondisi Karhutla yang terjadi di Ketapang saat ini, Effendi menilai secara umum memerlukan kewaspadaan yang tinggi. Kemarau panjang, dan menurunnya curah hujan, maka potensi terjadinya kebakaran meningkat, terutama pada kawasan gambut dan lahan yang memiliki vegetasi kering.
"Kondisi saat ini belum bisa dianggap aman. Harus menjadi perhatian bersama. Semoga dengan kesiapsiagaan seluruh pihak, penguatan patroli, serta partisipasi aktif masyarakat, potensi Karhutla dapat ditekan. Sehingga tidak berkembang menjadi kebakaran berskala besar," pungkasnya. (dul)
Komentar
Login untuk Berkomentar
Silakan login untuk memberikan komentar