EQUATOR, KUBU RAYA – Pemerintah Kabupaten Kubu Raya bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mencanangkan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) XXIII di Taman Dirgantara Lanud Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Selasa (28/07/2026). Mengusung tema "Menggerakkan Potensi Masyarakat Melalui Gotong Royong untuk Membangun Desa Maju dan Mandiri", kegiatan ini mengingatkan bahwa pembangunan harus lahir dari kolaborasi seluruh elemen masyarakat, alih-alih hanya mengandalkan pemerintah.
Bupati Kubu Raya Sujiwo menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat yang memberikan kepercayaan kepada Kubu Raya sebagai tuan rumah penyelenggaraan BBGRM XXIII tingkat provinsi.
"Kami atas nama pemerintah dan seluruh masyarakat Kabupaten Kubu Raya mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Bapak Gubernur Kalimantan Barat yang telah memberikan kepercayaan kepada Kabupaten Kubu Raya menjadi penyelenggara kegiatan ini," kata Sujiwo.
Ia menjelaskan lima agenda besar digelar secara terpadu, mulai dari Pengukuhan Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan), Rapat Koordinasi Bunda PAUD, Hari Kesatuan Gerak PKK ke-54, Pencanangan BBGRM XXIII, dan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) dalam rangka Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas). Menurut Sujiwo, pencanangan BBGRM yang dilaksanakan setiap tahun menyimpan pesan moral yang sangat kuat. Gotong royong, sebutnya, merupakan warisan budaya luhur dari para pendahulu dan harus terus ada dalam kehidupan masyarakat maupun penyelenggaraan pemerintahan.
"Budaya gotong royong adalah warisan yang sangat mulia. Pesan moral ini harus sampai ke seluruh lapisan masyarakat, termasuk di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya," ujarnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh jajaran pemerintah daerah mulai dari wakil bupati, sekretaris daerah, hingga seluruh perangkat daerah untuk terus menanamkan semangat gotong royong dalam bekerja dan melayani masyarakat.
"Saya mengimbau, saya mengajak, sekaligus menginstruksikan agar semangat gotong royong ini terus dijaga. Dulu ketika orang tua tidak bisa ikut gotong royong, anaknya diminta mewakili. Itu menunjukkan betapa tingginya nilai budaya gotong royong dalam kehidupan masyarakat kita," tuturnya.
Sujiwo menegaskan gotong royong tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan membersihkan lingkungan, memperbaiki jalan, maupun membersihkan parit. Lebih dari itu, semangat tersebut harus diwujudkan dalam bentuk kolaborasi untuk menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan.
"Permasalahan yang berat dipikul bersama, yang ringan dijinjing bersama. Gotong royong juga bisa diwujudkan dalam bentuk kerja sama membangun daerah," katanya.
Ia mencontohkan pembangunan Taman Dirgantara Lanud Supadio sebagai buah nyata kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Kubu Raya dan Lanud Supadio. Kawasan yang sebelumnya minim aktivitas itu kini telah berkembang menjadi ruang publik sekaligus pusat ekonomi masyarakat.
"Dulu kawasan ini gelap gulita. Setelah kami berdiskusi dengan Danlanud, konsepnya langsung kami eksekusi bersama. Sekarang ada sekitar 100 pelaku UMKM yang mencari rezeki di sini. Itu adalah hasil gotong royong," ucapnya.
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan menegaskan bahwa Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat tidak boleh dipandang sebagai agenda seremonial semata.
"BBGRM bukan sekadar kegiatan seremonial. Ini adalah momentum untuk kembali mengingat bahwa gotong royong merupakan jati diri dan kekuatan bangsa Indonesia," katanya.
Menurut Norsan, di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat, semangat kebersamaan justru harus semakin diperkuat sebagai modal sosial menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
"Pembangunan tidak mungkin hanya dikerjakan oleh pemerintah. Pembangunan membutuhkan keterlibatan masyarakat, dunia usaha, akademisi, organisasi kemasyarakatan, hingga generasi muda," ucapnya.
Ia mengajak seluruh pemerintah daerah sampai tingkat desa dan kelurahan terus menghadirkan inovasi pembangunan yang berbasis partisipasi masyarakat.
"Dengan kolaborasi dan kebersamaan yang kuat, saya yakin pembangunan akan berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan," katanya.
Pada kesempatan itu, Ria Norsan juga mengingatkan pentingnya momentum Hari Keluarga Nasional sebagai penguat pembangunan sumber daya manusia. Menurutnya, keluarga merupakan tempat pertama lahirnya nilai-nilai kehidupan.
"Dari keluargalah anak-anak belajar kasih sayang, tanggung jawab, disiplin, keteladanan, dan kepedulian terhadap sesama. Karena itu, membangun keluarga yang berkualitas sama pentingnya dengan membangun daerah," tutupnya. (sya)
Komentar
Login untuk Berkomentar
Silakan login untuk memberikan komentar