EQUATOR, SANGGAU - Musim kemarau masih melanda Kabupaten Sanggau. Curah hujan yang minim mengakibatkan banyak warga kesulitan air bersih. Satu sisi, kebakaran hutan dana lahan (Karhutla) masih terjadi. 

 

Minimnya curah hujan sejak dua bulan belakangan membuat sumber-sumber air mengering. Bahkan Sungai Sekayam yang menjadi sumber air masyarakat termasuk PDAM Tirta Pancur Aji semakin surut. 

 

Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sanggau, Sigit Purnomo memprediksi kemarau mulai mereda pada akhir Agustus. 

 

“September biasanya sudah turun hujan,” ujarnya. 

 

Minimnya curah hujan hingga mengeringnya sumber-sumber air kerap menjadi kendala bagi petugas pemadam kebakaran ketika memadamkan Karhutla. 

 

“Terlebih ketika terjadi di kawasan berbukit yang jauh dari sumber air. Sumber air yang ada pun sudah banyak surut, sehingga harus membawa air dari luar,” kata Sigit. 

 

Karena ia mengimbau masyarakat, dengan kondisi kemarau saat ini tak melakukan aktivitas pembakaran lahan. Kalau pun terpaksa membakar, ia minta hati-hati. 

 

“Kalau untuk membakar lahan itu kan sudah ada surat edaran dari Gubernur Kalbar yaitu di bawah dua hektar. Tentu ada aturannya. Yang perlu kami sampaikan juga apabila harus membakar lahan, harus melapor ke aparat setempat, baik aparat desa, Babinsa, Babinkamtibmas, sehingga ada antisipasi. Kalau tidak melapor akan berisiko,” bebernya.  

 

Hingga Juli 2026, Sigit menyebut ada 1340 titik panas (hot spot) di 15 kecamatan di Kabupaten Sanggau. Jumlah terbanyak di Kecamatan Meliau dengan 232 titik. Kecamatan Parindu sebanyak 216 titik. Sedangkan Kecamatan Kembayan 145 titik. Jumlah titik panas tersebut terbagi menjadi tiga: rendah, sedang, dan tinggi. (KiA)