eQuator, PONTIANAK - Gubernur Ria Norsan menyatakan bahwa Kalimantan Barat memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri genteng berbasis bahan baku lokal.

 

Norsan menjelaskan hal ini sebagai bagian dari upaya mendorong hilirisasi sumber daya alam di daerah.

 

Menurut Norsan, salah satu potensi bahan baku genteng berasal dari sisa produksi tambang bauksit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

 

Ia menjelaskan bahwa material berupa tanah yang tersisa setelah proses pengambilan bijih bauksit dapat diolah kembali menjadi bahan baku genteng.

 

“Kalau gentengisasi diterapkan di Kalimantan, kita sudah punya bahan baku, yaitu bekas daripada produksi bauksit. Kan ada tanahnya yang bisa dibuat genteng,” ujar Norsan, Senin (09/02/2026).

 

Ia memaparkan, dalam aktivitas pertambangan, bagian yang diambil hanya bijih bauksitnya, sementara tanah dan material lainnya dikeruk lalu ditinggalkan.

 

Padahal, menurutnya, sisa material tersebut masih memiliki potensi ekonomis jika dikelola secara tepat.

 

“Bauksit itu diambil boksitnya, kerikilnya, sisa tanahnya itu kan ditinggalkan. Nah itu bisa untuk membuat bahan genteng,” jelasnya.

 

Selain limbah tambang bauksit, Kalimantan Barat juga memiliki sumber daya lain berupa tanah kaolin yang selama ini dikenal sebagai bahan baku industri keramik dan genteng.

 

Keberadaan kaolin dinilai semakin memperkuat peluang pengembangan industri genteng lokal di provinsi tersebut.

 

“Dan juga selain itu ada tanah kaolin yang juga bisa menjadi bahan baku genteng. Kalau itu diterapkan di Provinsi Kalimantan Barat, kita sudah punya bahan bakunya,” tambah Norsan.

 

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, lanjutnya, siap mendukung proses dan operasional industri yang memanfaatkan sumber daya lokal tersebut.

 

Dukungan itu mencakup kemudahan perizinan, dorongan inovasi, serta penguatan hilirisasi agar mampu memberikan nilai tambah bagi daerah dan masyarakat.

 

Norsan berharap, melalui pemanfaatan limbah tambang dan sumber daya lokal, Kalimantan Barat tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil bahan mentah, tetapi juga mampu mengembangkan industri turunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

 

“Ke depan, kita ingin Kalimantan Barat tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga mengolahnya menjadi produk jadi yang punya nilai tambah dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat,” tegasnya. (m@nk)