eQuator, PONTIANAK – Sebanyak 63 pahlawan kemanusiaan yang telah lebih dari 100 kali berdonor menerima penghargaan dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Pontianak. Mereka diganjar pin emas sebagai tanda perhormatan dan kenang-kenangan. 

 

Salah seorang pendonor, Zulfydar Zaidar bercerita ia mulai berdonor ketika kuliah di Jakarta pada tahun 1990-an. Di tengah kehidupan mahasiswa yang serba terbatas, ia menghadapi situasi yang membekas kuat dalam ingatan; seorang seniornya membutuhkan bantuan karena istrinya sakit dan memerlukan darah.

 

“Kalau saya boleh cerita, saya mulai donor karena ada orang yang membutuhkan donor,” ujarnya dalam Penyerahan Penghargaan dan Halal Bihalal PMI Kota Pontianak di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Senin (13/04/2026).

 

Ia mengaku, pertama kali donor darah bukanlah hal yang mudah. Ada rasa takut, ngeri. Namun di balik rasa takut itu, ia justru menemukan pertanyaan yang lebih besar dalam dirinya. Bagaimana membantu orang lain di saat dirinya sendiri juga hidup pas-pasan.

 

Saat itu, hidupnya sebagai mahasiswa di Jakarta jauh dari kata mewah. Kiriman dari orang tua, hanya sekitar Rp400 ribu per bulan. Ia harus kuliah pagi, lalu bekerja di malam hari demi bertahan hidup. Dalam keterbatasan itulah, ia menyadari bahwa membantu orang tidak selalu harus dengan uang.

 

Donor darah baginya berubah makna. Ia melihat bahwa darah yang mengalir dalam tubuh setiap orang adalah pemberian dari orang tua, hasil dari kasih sayang, pengasuhan, dan rezeki yang selama ini diterima. Ketika darah itu didonorkan, ia bukan hanya berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan orang lain yang sedang diperjuangkan.

 

“Kalau kita bicara amal jariyah, ini mengalir terus, tidak putus-putusnya. Membantu orang tidak putus-putusnya,” ucap anggota DPRD Provinsi Kalbar tersebut. 

 

Karena itulah, Zulfydar terus menjaga semangat itu hingga hari ini. Bukan hanya karena donor bermanfaat bagi kesehatan pendonor, tetapi juga karena di ujung sana selalu ada orang yang membutuhkan, orang yang mungkin sedang menunggu kesempatan untuk hidup lebih lama.

 

Cerita Zulfidar selaras dengan apa yang disampaikan Wali Kota Pontianak, yang juga Ketua PMI Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono. Menurutnya, para pendonor adalah pahlawan kemanusiaan. Sebab yang mereka lakukan merupakan bentuk aksi nyata penyelamatan jiwa. 

 

"Secara akumulatif, seorang pendonor 100 kali telah menyumbang sekitar 30 liter darah. Diperkirakan telah menolong dan menyelamatkan 100 hingga 200 jiwa," katanya.

 

Saat ini, kebutuhan darah di Kota Pontianak masih tergolong tinggi. Dalam sehari, kebutuhan darah rata-rata mencapai 100 hingga 150 kantong, sementara ketersediaan rutin yang dapat dipenuhi berkisar antara 70 sampai 100 kantong per hari. Jumlah pendonornya di tahun 2025 mencapai 21.644 orang, dengan 86,3 persennya merupakan pendonor sukarela, dan 13,6 persennya pendonor pengganti. 

 

"Kekurangan stok darah selama ini diatasi dengan menghubungi para pendonor yang datanya sudah dimiliki PMI, termasuk sukarelawan maupun keluarga pasien yang sedang membutuhkan darah dalam kondisi mendesak," sebutnya.

 

Ia mengakui PMI Kota Pontianak masih memiliki berbagai keterbatasan dalam memberikan pelayanan, baik dari sisi teknis maupun administrasi. Karena itu, pihaknya terus berupaya melakukan pembenahan, termasuk memenuhi sarana dan prasarana yang dibutuhkan.

 

Salah satu hal yang tengah diupayakan PMI, adalah penyediaan lahan untuk pembangunan laboratorium tersendiri. Hal itu penting karena standar akreditasi dari pemerintah pusat mensyaratkan agar pelayanan donor darah dipisahkan dengan laboratorium.

 

“Nah, ini sedang kita usahakan ke depan untuk kita bangun laboratorium tersendiri,” jelasnya.

 

Edi juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada para pendonor yang telah berkontribusi bagi kemanusiaan. Ia menilai dedikasi mereka tidak dapat dibalas dengan kata-kata.

 

“Saya tidak bisa lagi berkata-kata membalas Bapak-Ibu atas jasa kemanusiaan ini. Tidak ada kata-kata yang bisa diucapkan selain mudah-mudahan Bapak-Ibu diberikan kesehatan dan pahala yang setimpal,” ungkapnya.

 

Edi menambahkan, penghargaan berupa pin emas yang diberikan kepada pendonor 100 kali menjadi simbol ucapan terima kasih dari warga yang pernah tertolong oleh darah yang didonorkan. Ia menilai setiap tetes darah yang disumbangkan telah membantu menyelamatkan nyawa banyak orang, baik pasien operasi, korban kecelakaan, maupun mereka yang membutuhkan penanganan cepat.

 

“Pin emas ini membuktikan bahwa saya mewakili warga yang telah mendapatkan darah dari Bapak-Ibu selama ini, yang telah terselamatkan. Mudah-mudahan ini menjadi amal jariah yang terus mengalir sepanjang masa,” pungkas Edi. (m@nk)