Site icon Equatoronline.id

DIB Komitmen Tingkatkan Produksi Aluminium Nasional untuk Tekan Ketergantungan Impor

Silaturahmi PT DIB dengan media massa bertajuk ‘Jalin Rasa, Jalin Cerita’ di Koya Pontianak, Jumat (18/11/2025) malam. Foto: ist

EQUATORONLINE.ID – PT Dharma Inti Bersama (DIB), perusahaan yang mengelola Kawasan Industri Pulau Penebang di Kabupaten Kayong Utara, menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kapasitas produksi aluminium nasional dan menekan ketergantungan pada impor. Saat ini, kebutuhan aluminium Indonesia mencapai 1,2 juta ton per tahun, namun 56 persen di antaranya masih harus dipenuhi dari luar negeri.

Direktur PT DIB, Rasnius Pasariba mengatakan hadirnya fasilitas smelter di Pulau Penebang akan berkontribusi besar terhadap pengurangan impor aluminium.

“Dengan adanya PT DIB yang akan menghasilkan aluminium, maka nanti akan mengurangi impor itu,” ujarnya saat silaturahmi media massa bertajuk ‘Jalin Rasa, Jalin Cerita’ di Koya Pontianak, Jumat (18/11/2025) malam.

PT DIB bergerak di bidang pengolahan mineral dengan membangun fasilitas smelter di Pulau Penebang, Desa Pelapis, Kabupaten Kayong Utara.

Sementara itu, Manager External Relations Kawasan Industri Pulau Penebang, Seno Ario Wibowo, menjelaskan bahwa Indonesia berada pada peringkat kelima cadangan bauksit terbesar di dunia setelah Guinea, Vietnam, Australia, dan Brazil.

“Artinya kita lima besar negara yang memiliki cadangan bauksit terbesar,” jelasnya.

Namun fakta bahwa kebutuhan aluminium nasional masih 56 persen dipenuhi impor menunjukkan perlunya percepatan hilirisasi. Sejak Juni 2023, pemerintah resmi melarang ekspor bauksit mentah untuk mendorong nilai tambah melalui pemurnian dan pengolahan dalam negeri.

Menurut Seno, rantai hilirisasi bauksit dimulai dari penambangan, pemurnian, smelter/pelaburan, produk aluminium, yang selanjutnya dapat digunakan untuk industri manufaktur seperti pesawat terbang, baterai kendaraan listrik, infrastruktur, peralatan rumah tangga, hingga industri kemasan makanan.

Di sisi nilai ekonomi, potensi peningkatan profit sangat besar. Harga bauksit saat ini sekitar 30–40 USD per ton, sementara ketika diolah menjadi alumina, harganya melonjak menjadi 400–450 USD per ton. Adapun aluminium siap olah bernilai 2.700–3.000 USD per ton.

“Total peningkatan nilai dari hanya menjual bauksit mentah menjadi aluminium bisa mencapai 60 hingga 65 kali lipat. Ini luar biasa untuk ekonomi negara dan industri aluminium masa depan,” tegas Seno.

Proyek Kawasan Industri Pulau Penebang yang menjadi lokasi operasi PT DIB telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) sejak 2024, diperbarui 2025, dan masuk dalam Perencanaan Pembangunan Jangka Panjang. PSN menjadi prioritas pemerintah untuk pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. (m@nk)

Exit mobile version